Rabu, Februari 11, 2026
spot_img

Lukah Gilo, Atraksi Budaya Masyarakat Air Hitam Sarolangun

Sarolangun, Beritabicara.com – Lukah gilo merupakan kesenian atau atraksi budaya yang berasal dari Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, tepatnya di Desa Jernih.

Pementasan permainan tradisional atau atraksi budaya ini dimainkan bersamaan musik biduk sayak yang berkembang sejak jaman dahulu kala atau diperkirakan pada tahun 1618 masehi, yang merupakan kepercayaan leluhur terhadap hal-hal goib dan memiliki kesaktian.

Kepala dinas pariwisata, pemuda dan olahraga (Disparpora) Sarolangun, Kasiyadi mengatakan biasanya kesenian lukah gilo ini dimainkan atau dipentaskan dalam rangka acara adat seperti turun betaun kesawah, pesta pernikahan, penyambutan tamu atau pementasan untuk kepentingan pemerintah.

“Alat-alat yang digunakan antara lain, lukah, kemenyan, korek api, wajan kecil, baju panjang/kurung, bola karah, kain sarung, selendang, spidol tulis warna hitam, dan potongan kayu,” kata Kasiyadi ketika berbincang dengan Beritabicara.com, Kamis, 22 Desember 22.

Kasiyadi menyebut, adapun kegunaan alat-alat tersebut yaitu. Lukah digunakan sebagai bentuk badan, bola karah digunakan untuk membentuk bagian kepala, wajan kecil untuk tempat kemenyan putih yang akan dibakar, kemenyan untuk prosesi pengasapan.

Berikutnya, baju panjang/kurung untuk menutup bagian atas lukah gilo, kain sarung untuk menutup bawah lukah gilo, potongan kayu untuk membentuk bagian tangan pada lukah gilo, selendang untuk menutup bagian kepala dari bola karah yang telah dilukis atau dihias seperti wajah manusia.

“Spidol tulis warna hitam digunakan untuk melukis/menghias bola karah agar menyerupai wajah manusia dan korek api untuk membakar kemenyan,” ujar Kasiyadi.

Kasiyadi menjelaskan, sementara itu lantunan alat musik tradisional biduk sayak tadi digunakan untuk mengiringi perjalanan para pawang dan masyarakat yang ikut memainkan lukah gilo. Biduk Sayak tradisional musik daerah setempat yang mengiringi lukah gilo.

“Kawan dari lukah gilo itu Biduk Sayak merupakan kesenian daerah setempat, ada gendang, ada biolanya, ada mic, dan ketuping,” katanya.

Sesuai namanya, Lukah merupakan alat untuk menangkap ikan berbahan dasar bambu dan rotan dianyam. Lalu Lukah dibungkus dengan pakaian dibentuk menyerupai manusia dengan dua jenis, laki-laki maupun perempuan.

Dalam permainan ini, lukah gilo akan dihidupkan oleh pawang lalu pegang oleh 4 orang atau lebih. Seperti yang dirasakan oleh pemuda yang ikut dalam permainan ini, lukah gilo seperti ingin terbang menarik melawan saat dipegang oleh para pemain.

“Roh yang masuk ke dalam lukah gilo ini bukan jin, bukan iblis. Malaikat yang masuk kedalam ini lukah gilo ini, tidak menganggu para masyarakat dan penonton saat atraksi berlangsung,” ujarnya.

Bermain lukah gilo tidak memiliki efek pada masyarakat yang menonton maupun yang ikut menahan lukah gilo. Tidak ada efek samping hanya sebatas hiburan masyarakat.

“Tidak ada efek samping bermain ini, tidak ada yang kesurupan ataupun lainnya,” jelasnya.

Di Desa Jernih kecamatan Air Hitam kabupaten Sarolangun ini, ada tiga pawang yang dapat memandu permainan tradisional lukah gilo, yang paling tertua yakni orang tua dari Idris sang kakak dan Ismadi sang adik dan sang anak Ziad.

Kasiyadi menceritakan ada yang hilang dalam permainan lukah gilo, yakni lesung gilo merupakan lawan dari lukah gilo yang kini sudah menghilang karena sejak dulu tidak ada warga yang mengembangkan.

Sementara itu, pengembangan lukah gilo biduk sayak depan akan rutin dilakukan di tempat wisata Dam Air Muap di Desa Jernih. Lukah gilo pernah mengikuti festival pada 2004 tingkat provinsi Jambi mendapatkan peringkat kedua, untuk kesenian tradisional.

Reporter: Warsun Arbain

Editor: Admin

Berita Lainnya

Berita Terbaru