Sarolangun, Beritabicara.com – Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Limau Unit VII Hulu, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, menggelar pelatihan pengolahan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Kopi untuk masyarakat desa sekitar kawasan hutan, Sabtu (16/9/2023).
Pelatihan tersebut dilaksanakan di Desa Muara Pemuat, Kecamatan Batang Asai, daerah tersebut. Dalam kegiatan itu, pihak KPHP menghadirkan pemateri dari ketua BPC Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sarolangun, Beek Rison.
Kepala UPTD KPHP Limau Unit VII Hulu, Arbain mengatakan bahwa besar berharapnya agar kemudian pelatihan tersebut benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh peserta dan dapat memperhatikan apa yang disampaiakan pemateri.
“Karena tidak semua desa bisa kami menghadirkan pemateri yang benar-benar mumpuni seperti dari BPC Hipmi ini,” katanya.
Ia menyebut, bahwa dari kegiatan itu nanti. Sehingga tidak ada lagi kebun kopi masyarakat yang terbengkalai. Dan dari hal tersebut nantinya akan dapat meningkatkan perekonomian warga desa Muara Pemuat.
“Bahwa kami ini hanya unit dari dinas kehutanan provinsi jambi. Setiap tahun hanya bisa menyasar ke dua desa. Karena berbagai keterbatasan anggaran untuk melaksanakan kegiatan seperti ini,” kata Arbain.

Arbain dalam paparan menjelaskan, bahwa potensi kopi di Kabupaten Sarolangun bisa menjadi sumber daya ekonomi yang penting bagi daerah tersebut. Beberapa faktor yang mendukung potensi kopi di daerah ini meliputi:
1. Iklim dan Tanah
Sarolangun, Jambi, memiliki iklim tropis yang cocok untuk pertumbuhan tanaman kopi. Suhu yang hangat sepanjang tahun dan curah hujan yang cukup mendukung pertumbuhan kopi yang baik. Tanah yang subur juga dapat mendukung pertumbuhan tanaman kopi.
2. Varietas Kopi
Jenis kopi yang biasa ditemukan di Indonesia adalah Robusta dan Arabika. Di Sarolangun, tergantung pada faktor-faktor seperti ketinggian, jenis tanah, dan iklim, salah satu atau kedua jenis kopi ini dapat tumbuh dengan baik.
3. Ketinggian
Ketinggian dataran Sarolangun yang bervariasi dapat menjadi faktor yang memengaruhi kualitas biji kopi. Kopi yang tumbuh di ketinggian tertentu dapat memiliki citarasa yang lebih kaya dan kompleks.
4. Pengolahan Kopi
Proses pengolahan kopi, seperti penjemuran dan pemrosesan biji, sangat penting dalam mempengaruhi kualitas akhir biji kopi. Daerah Sarolangun dapat mengembangkan fasilitas pengolahan yang modern untuk meningkatkan kualitas biji kopi.
5. Potensi Pasar: Selain potensi pertumbuhan kopi, penting juga untuk mempertimbangkan pasar lokal, nasional, dan internasional untuk biji kopi Sarolangun. Upaya pemasaran dan distribusi yang baik dapat membantu meningkatkan penjualan kopi tersebut.
6. Pendidikan dan Pelatihan
Pelatihan kepada petani kopi dalam hal teknik bercocok tanam, pengolahan, dan manajemen usaha kopi juga sangat penting untuk meningkatkan hasil dan kualitas biji kopi.
7. Pengembangan Usaha Kecil
Mendukung pengembangan usaha kecil yang terlibat dalam produksi dan pengolahan kopi dapat membantu masyarakat setempat mendapatkan manfaat ekonomi dari potensi kopi Sarolangun.
“Pemerintah daerah, pihak swasta, dan petani kopi dapat bekerja sama untuk mengoptimalkan potensi kopi di Sarolangun, Jambi. Dengan pendekatan yang terarah dan dukungan yang memadai, potensi ini dapat menjadi sumber pendapatan yang signifikan bagi daerah tersebut serta meningkatkan kualitas produk kopi yang dihasilkan,” kata pria yang juga akrab dipanggil Baim ini.

Peran KPHP Limau Unit VII Hulu
KPHP Limau Unit VII di Hulu Sarolangun, Jambi, yang memiliki peran penting dalam mendukung masyarakat dalam pengelolaan kopi dan sumber daya hutan secara berkelanjutan. Berikut beberapa cara di mana KPHP Limau Unit VII dapat mendukung masyarakat dalam pengelolaan kopi:
1. Pendampingan Teknis
KPHP dapat menyediakan pendampingan teknis kepada petani kopi dalam hal praktik pertanian yang berkelanjutan, seperti penggunaan pupuk organik, metode penanaman yang tepat, dan manajemen hama dan penyakit.
2. Pelatihan
KPHP dapat menyelenggarakan pelatihan bagi petani kopi dalam pengolahan dan pemrosesan biji kopi yang baik, termasuk tahapan penjemuran, pengupasan, dan penyimpanan. Hal ini dapat meningkatkan kualitas biji kopi yang dihasilkan.
3. Pengelolaan Sumber Daya
KPHP memiliki peran dalam mengelola sumber daya hutan secara berkelanjutan, yang dapat melindungi sumber air dan tanah yang penting untuk pertanian kopi. Pengelolaan hutan yang baik juga dapat membantu menjaga ekosistem yang sehat untuk mendukung pertumbuhan tanaman kopi.
4. Pemberdayaan Masyarakat
KPHP dapat berperan dalam pemberdayaan masyarakat lokal dengan memberikan akses ke sumber daya hutan dan fasilitas pengolahan kopi yang ada di dalamnya. Hal ini dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat dan kesejahteraan mereka.
5. Pengembangan Pasar: KPHP bisa berkolaborasi dengan pihak terkait untuk membantu memasarkan produk kopi yang dihasilkan oleh masyarakat setempat. Ini dapat melibatkan promosi produk kopi daerah tersebut dan membantu petani mendapatkan harga yang adil untuk produk mereka.
6. Penerapan Praktik Berkelanjutan
KPHP dapat mendorong penggunaan praktik berkelanjutan dalam pertanian kopi, seperti praktik organik dan pertanian berkelanjutan. Ini akan membantu menjaga lingkungan dan menghasilkan kopi berkualitas tinggi.
7. Pendekatan Partisipatif
Melibatkan masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan hutan dan pertanian kopi sangat penting. KPHP dapat memberikan platform untuk partisipasi aktif masyarakat dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.
“Dengan kerja sama yang baik antara KPHP Limau Unit VII dan masyarakat lokal, maka pengelolaan kopi dan sumber daya hutan di wilayah kita ini dapat menjadi lebih berkelanjutan, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan mendukung kesejahteraan mereka,” kata Arbain.
Sementara itu, Kepala desa Muara Pemuat, Susilo Sudarman mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia berharap masyarakatnya dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meningkatkan pengetahuan dalam mengelola perkebunan kopi di desanya.
“Mari sama-sama memlerhatikan apa yang disampaikan narasumber, sehingga dapat bermanfaat bagi kita untuk pengolahan kopi lebih baik lagi,” kata Susilo Sudarman.
Ia menyebut, masyarakat di desa tersebut baru pada tahun 2018 – 2019 yang lalu memulai menanam kopi.
“Tapi karena kurangnya pelatihan pengolahan kopi, makanya sekarang banyak perkebunan kopi yang tidak terurus lagi. Harapannya kedepan ada perhatian dari dinas terkait, agar lebih meningkatkan produktipitas kopi kami,” katanya.
Editor: Admin

